MATA AIR ILMU DARI MADURA

Bermula hanya mengantar siswa kelas VIII , untuk studi Tour ke Jembatan Suramadu dan Wisata Bahari Lamongan (WBL). yang dibagi dua bis, Setelah perjalanan 6 jam dari Mantingan , Jam 02.00 Tibalah kami melihat dipinggir Jembatan Suramadu, rangkaian anyaman baja kokoh dan megah sepanjang 4 km yang membentang di atas selat Kamal , menghubungkan antara Surabaya dan Pulau Garam. Madura. Dari atas jembatan Suramadu, terlihat kelap-kelipnya lampu kapal , dan lampu lampu rumah penduduk yang di pinggir pantai, terlihat dengan indahnya. Perlahan dengan bis kami melewati anyaman baja dan empat pilar raksasa yang menyangga jembatan di tengah-tengah selat Kamal , tidak lama kemudian tibalah kami di seberang daratan Madura. Bis terus berjalan , terlihat di kanan kiri ada beberapa warung souvenir yang masih buka kemudian berganti dengan bikit bukit kapur yang sunyi Kemudian setelah perjalan selama setengah jam tibalah kami di sebuah masjid , dengan tempat parkirnya yang luas , di situ ternyata banyak bis dan kendaraan pribadi yang parkir.
Kemudian aku turun, kulayangkan pandanganku di sekeliling temapt parkir , banyak kios-kios dan warung-warung makan yang buka. Kios-kios soevenir khas Madura, dari clurit sampai jamu Madura. Warung makan, warung kopi juga masih buka. Kulayangkan juga pada masjid, tampak kubahnya lumayan indah, warna hitam mengkilat dan dipadu dengan warna keemasan . Inilah masjid nanti kami akan beristirahat dan melaksankan sholat subuh.
Tetapi sebenarnya bukan keindahan jembatan suramadu dan keindahan kubah masjid yang hendak aku tulis. Lebih dari itu Di barat masjid , atau di belakang masjid , ternyata di situlah dimakamkan seoarang ulama besar. Seorang ulama jadi guru para ulama-ulama besar yang ada di pulau Jawa dan Madura pada waktu itu. Seorang Ulama yang dapat menjadikan santri-santrinya menjadi Pahlawan Nasional. Siapakah beliau, ? Beliau adalah Syekhana Kholil yang dikenal dengan Syekh Kholil Bangkalan. Belaiu adalah guru dari Kyai Haji Hasyim Asyari Pendiri Organisasi Islam terbesar di Indonesia, dan guru dari Kyai Haji Ahmad Dahlan Pendiri Muhammadiyah organisasi Islam yang besar . Dua santri beliau, Kyai Haji Hasyim Asy’ar dan Kyai Haji Achmad Dahlan adalah dua Pahlawan Nasional.
Sungguh suatu anugerah bisa berziarah ke Bangkalan , walaupun sebenarnya ke Bangkalan bukan untuk berziarah, hanya mencari tempat yang representatif untuk sholat subuh dan beristirahat setelah dari Suramadu waktu malam dan nantinya bisa kembali melihat Jembatan Suramadu pada waktu pagi. Setelah makan , kemudian saya mengambil air wudlu, karena adzan sholat subuh sudah berkemandang. Segera ke masjid melaksankan shoalt subuh, dengan jama’ah yang memenuhi masjid. Setelah sholat subuh kemudian ikut berdoa, dengan jama’ah , mendoakan Kyai Kholil, dengan bacaan suart Yassin dan Tahlil.
Sebelumnya hanya tahu bahwa di situ dimakamkan seorang Ulama yang bernama Kyai Kholil, Siapakah kyai Kholil sebenarnya ”blas” saya belum tau apa-apa. Hanya saja melihat para peziarah yang banyak, dan banyak yang datang dari luar kota, ada yang dari Jakarta, maka saya mempunyai kesimpulan bahwa Kyai Kholil itu bukan Ulama yang sembarangan. Barulah tersibak siapa Kyai Kholil itu ketika dalam perjalan menuju Lamongan, ketua rombongan beliau Bapak Achmad Sangidu bercerita mengenai Kyai Kholil. Bahwa Beliau Kyai Kholil adalah teman belajar Kyai Hasyim Asy’ari dan Kyai Achmad Dahlan sewaktu belajar di Mekah.. Kemudian saya pun pernah mendengar dai Emha Ainun Najib bahwa Kyai Hasyim Asy’ari dan Kyai Achmad Dahlan adalah murid dari seorang Ulama di Madura.
Ada beberapa benang merah yang dapat saya hubungkan, ketika beliau bertiga Kyai Kholil , Kyai Hasyim Asy’ari dan Kyai Achmad Dahlan, belajar di Mekah , Kyai Hasyim Asy’ari dan Kyai Achmad Dahlan menuakan Kyai Kholil, yang mungkin telah lebih dahulu belajar di Mekah. Setelah pulang ke tanah air. Karena merasa ilmu beliau berdua Kyai Hasyim Asy’ari dan Kyai Achmad Dahlan, masih kurang maka beliau berdua pun berguru kepada Kyai Kholil di Madura.
Terasa berdosa ketika sewaktu di Bangkalan , tujuan kami bukanlah berziarah tetap hanyalah untuk ikut sholat subuh dan beristirahat saja, namun rasa syukur bisa berziarah ke makam beliau seorang Ulama Besar, Guru dari dua Pahlawan Nasional, Guru dari Ulama yang mempunyai pengaruh besar di Tanah air ini. Semoga perjuangan beliau , senantiasa menjadi sinar bagi genarasi bangsa. Semoga Beliau mendapat tempat yang mulia disisi Allooh SWT. Amiin. Kyai Kholil Engkaulah Mata air Ilmu para Ulama-ulama di Jawa dan Madura.
murid Kiyai Kholil rata-rata berumur panjang, banyak diatas 100 tahun. Berikut ini sebagian murid Kiyai Kholil yang mudah dikenal saat ini:
1. KH. Hasyim Asy’ari : Pendiri, pengasuh Pondok Pesantren Tebu Ireng Jombang. Beliau juga dikenal sebagai pendiri organisasi Islam Nahdlatul Ulama (NU) Bahkan beliau tercatat sebagai Pahlawan Nasional.
2. KHR. As’ad Syamsul Arifin : Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah, Sukorejo Asembagus, Situbondo. Pesantren ini sekarang memiliki belasan ribu orang santri.
3. KH. Wahab Hasbullah: Pendiri, Pengasuh Pondok Pesantren Tambak Beras Jombang. Pernah menjabat sebagai Rais Aam NU (1947 – 1971).
4. KH. Bisri Syamsuri: Pendiri, Pengasuh Pondok Pesantren Denanyar, Jombang.
5. KH. Maksum: Pendiri, Pengasuh Pondok Pesantren Rembang, Jawa Tengah
6. KH. Bisri Mustofa: Pendiri, Pengasuh Pondok Pesantren Rembang, Beliau juga dikenal sebagai mufassir Al Quran. Kitab tafsirnya dapat dibaca sampai sekarang, berjudul “Al-Ibriz” sebanyak 3 jilid tebal berhuruf jawa pegon.
7. KH. Muhammad Siddiq: Pendiri, Pengasuh Pesantren Siddiqiyah, Jember.
8. KH. Muhammad Hasan Genggong : Pendiri, Pengasuh Pondok Pesantren Zainul Hasan, Genggong. Pesantren ini memiliki ribuan santri dari seluruh penjuru Indonesia.
9. KH. Zaini Mun’im: Pendiri, Pengasuh Pesantren Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo. Pesantren ini juga tergolong besar, memiliki ribuan santri dan sebuah Universitas yang cukup megah.
10. KH. Abdullah Mubarok: Pendiri, Pengasuh Pondok , kini dikenal juga menampung pengobatan para morphinis.
11. KH. Asy’ari: Pendiri, pengasuh pondok Pesantren Darut Tholabah, Wonosari Bondowoso.
12. KH. Abi Sujak : Pendiri, pengasuh pondok Pesantren Astatinggi, Kebun Agung, Sumenep.
13. KH. Ali Wafa : Pendiri, pengasuh Pondok Pesantren Temporejo, Jember. Pesantren ini mempunyai ciri khas yang tersendiri, yaitu keahliannya tentang ilmu nahwu dan sharaf.
14. KH. Toha : Pendiri, pengasuh Pondok Pesantren Bata-bata, Pamekasan.
15. KH. Mustofa : Pendiri, pengasuh Pondok Pesantren Macan Putih, Blambangan
16. KH Usmuni : Pendiri, pengasuh Pondok Pesantren Pandean Sumenep.
17. KH. Karimullah : Pendiri, pengasuh Pondok Pesantren Curah Damai, Bondowoso.
18. KH. Manaf Abdul Karim : Pendiri, pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo Kediri.
19. KH. Munawwir : Pendiri, pengasuh Pondok Pesantren Krapyak, Yogyakarta.
20. KH. Khozin : Pendiri, pengasuh pondok Pesantren Buduran, Sidoarjo.
21. KH. Nawawi : Pendiri, pengasuh pondok Pesantren Sidogiri, Pasuruan. Pesantren ini sangat berwibawa. Selain karena prinsip salaf tetap dipegang teguh, juga sangat hati-hati dalam menerima sumbangan. Sering kali menolak sumbangan kalau patut diduga terdapat subhat.
22. KH. Abdul Hadi : Lamongan.
23. KH. Zainudin : Nganjuk
24. KH. Maksum : Lasem
25. KH. Abdul Fatah : Pendiri, pengasuh Pondok Pesantren Al Fattah, Tulungagung
26. KH. Zainul Abidin : Kraksan Probolinggo.
27. KH. Munajad : Kertosono
28. KH. Romli Tamim : Rejoso jombang
29. KH. Muhammad Anwar: Pacul Bawang, Jombang
30. KH. Abdul Madjid: Bata-bata, Pamekasan, Madura
31. KH. Abdul Hamid bin Itsbat, banyuwangi
32. KH. Muhammad Thohir jamaluddin : Sumber Gayam, Madura.
33. KH. Zainur Rasyid: Kironggo, Bondowoso
34. KH. Hasan Mustofa: Garut Jawa Barat
35. KH. Raden Fakih Maskumambang: Gresik
36. KH. Sayyid Ali Bafaqih: Pendiri, pengasuh Pesantren Loloan Barat, Negara, Bali.

Bacaan :
1. http://kumpulanbiografiulama.wordpress.com/2013/01/21/biografi-kh-kholil-bangkalan-madura-syaikhona-mbah-kholil/
2. http://guruhalilintar.blogspot.com/2011/02/kyai-kholil-bangkalan.html
Image

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

SALAH SATU TIKET PEREMPUAN MENUJU SURGA


Dari Anas RA, “Bahwasannya seorang perempuan yang biasa memunguti kotoran di dalam masjid meninggal dunia. Nabi SAW tidak diberitahu penguburannya. Nabi SAW bersabda, “Jika ada orang yang meninggal dunia maka beritahu kepadaku”. Beliau mensholatkan perempuan tadi kemudian Beliau bersabda, “Aku melihat perempuan itu di dalam surga karena suka memunguti kotoran di dalam masjid.”. (HR Tabrani RA)
Saya teringat sebuah cerita, yang saya saksikan di layar televisi, di salah satu episode acara TV “Tasafuf” di AN TV. Pembawa acara seorang perempuan dengan tutur kata yang lembut, halus kalau tidak salah presenter itu adalah bernama “Risang Ayu”. Dan nara sumbernya kalau tidak salah Bapak Komarudin Hidayat. Demikian ceritanya.
Di daerah di Madura, ada seorang nenek renta, tiap hari pergi ke pasar mungkin menjual hasil kebunnya. Setelah dari pasar nenek itu mampir ke masjid, disana dia menyapu halaman masjid dari daun-daun yang kering yang berguguran dari pohon yang ada di halaman masjid. Tiap hari dia melakukan begitu, hingga menjelang sholat dzuhur dia baru istirahat, dan pulang setelah jamaah sholat dzuhur.
Melihat yang demikian itu, ibalah hati salah sorang pemuda pengurus masjid, melihat nenek sudah renta bersusah payah menyapu halaman. Lalu esoknya sebelum nenek renta itu datang disapulah halaman masjid itu sampai bersih, sehingga nenek renta itu ketika datang, sudah tidak ada lagi yang bisa dikerjakan.
Hari pertama, hari kedua nenek renta itu hanya duduk, dan hanya dapat memandangi halaman masjid yang telah bersih. Namun hari-hari selanjutnya, nenek renta itu tampak menangis sambil memandangi halaman masjid itu. Lalu pemuda pengurus masjid itu menghampiri nenek yang renta. Kemudian bertanya kepada sang nenek, “Mengapa nenek menangis?” . Lalu nenek itu menjawab perlahan, “Apa saya tidak boleh mengabdi kepada Alloh dengan menyapu halaman Rumah Alloh?” . Kemudian melanjutkan “ Biarlah saya yang menyapu halaman rumah Alloh, karena hanya itu yang bisa saya abdikan kepada Alloh.”

Sayang acara-acara seperti itu sudah tidak ada lagi di TV. Sudah tidak laku.
Baiklah semoga nenek yang ada dalam tokoh cerita tersebut belum pernah mendengar hadis Nabi di atas, Sehingga dia melakukan dengan ikhlas dan tulus, semata-mata hanya karena Allooh SWT. Kalaupun pernah mendengar hadist tersebut semoga hatinya juga tetap ikhlas. Begitu cerdasnya nenek itu memaknai hadist dengan tindakannya.
Dan terus terang saya baru mendengar pertama kali, hadist tersebut ya hari ini, Senin, 21 Januari 2013,. Terima kasih kepada yang membacakannya. Semoga surga menjadi balasannya. Dan bidadari cantik menjadi pendampingnya. Amiin.
nenek

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

KHLAS ITU “PLUNG LAP”

IKHLAS ITU “PLUNG LAP”
Apakah perbuatan kita kepada Alloh, perbuatan kita kepada orang lain ingin mendapatkan balasan? Ingin mendapatkan pujian? Bukankan jika menolong orang lain harus tanpa pamrih ? Adakah pemberian itu tanpa pamprih. Lalu ada orang lain bilang “prek” kalau ada yang menolong orang lain tanpa pamrih. Sekecil apapun pasti dia punya pamrih.
Banyak kasus-kasus di masyarakat tentang amal-amal perbuatan yang keliatannya baik, tetapi belum tentu, menurut kacamata ke ikhlasan. Sebagai contoh
Ada orang yang menyumbang pohon jati untuk masjid. Katanya “demi Alloh saya ikhlas menyumbang kayu ini”. Tetapi akhirnya dia berkata, “apakah bisa jadi masjid ini jika tidak saya sumbang kayunya ? “
Contoh lagi,ada orang yang berkata begini, “kalaulah masjid ini tidak di kampung sini, pastilah dia tidak akan cepat jadi,”
Manusia semacam ini masih banyak juga di atas muka bumi yang masih membangga-banggakan amal perbuatan untuk mendapatkan pujian, dan mencari kamasyuran. Marilah kita sejenak merenungkan apa yang ada dalam surat Al Maa’uun : 1-7
1. tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama?
2. Itulah orang yang menghardik anak yatim,
3. dan tidak menganjurkan memberi Makan orang miskin.
4. Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat,
5. (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya,
6. orang-orang yang berbuat riya
7. dan enggan (menolong dengan) barang berguna
Bagaimanakah jika ada seorang ustadz menganjurkan menganjurkan “ kalau kamu ingin kaya bersodaqohlah” atau bersodaqolah jika kamu ingin kaya. Secara syariat bahwa setiap satu perbuatan baik Alloh akan melipatgandakan 10 kali kebaikan. Jadi masuk akal kalau ustadz itu menganjurkan demikian
Karena saya orang tidak pintar, saya tidak akan memberikan komentar anjuran itu dari kacamata keikhlasan. Dari kacamata sodaqoh itu baik sebagai latihan bersodaqoh. Namun salah seorang Ulama kalau tidak salah Imam Ghozali pernah berkata. “ Saya akan lebih senag jika Alloh membalas setiap kebaikan nanti di akhirat.
Marilah kita berkaca kira-kira tingkatan ke ikhlasan kita sampai di mana?
Ikhlas selanjutnya dibagi menjadi 3 tingkatan ;
1. Ikhlasnya orang awam (umum), ibadahnya dilandasi rasa takut akan siksa neraka dan mengharapkan kenikmatan surga-Nya.
2. Ikhlasnya orang khowas (khusus), ibadahnya semata-mata hanaya untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, ia malu jika mengharapkan upah berupa surga,meskipun itu tidak dilarang. Karena yang memberi kekuatan sehingga manusia mampu beribadah adalah Allah, maka tak sepantasnya manusia mengharapkan balasan. Sudah selayaknya hanya Allah yang patut disembah.
3. Ikhlasnya orang khowasul khowas (khususnya khusus), hatinya berkeyakinan hanya Allah Tuhan yang wujud, yang berhak disembah, semua gerak dan diamnya makhluk atas kuasa dan kehendak Allah, selain Allah tak dapat membawa dampak atau efek apa-apa. Memandang semua amal ibadahnya adalah anugerah Allah, hatinya senantiasa bersyukur atas semua anugerah-Nya.(zid)
dinukil dari kitab Ri’ayah al-Himmah jilid 2 Syaikhina Ahmad Rifa’i rahimahumullah.
Sebenarnya kalau kita sholat, kita sudah dituntun untuk melaksanakan segala amal, perbuatan, ibadah , hidup dan mati kita. Ikhlas hanya untuk Alloh.
Allah Maha Besar sebesar-besarnya. Dan puji-pujian bagi Allah sebanyak-banyaknya. Dan maha suci Allah siang dan malam.
Kuhadapkan mukaku, kepada yang menjadikan langit dan bumi, aku cenderung lagi berserah kepada Allah dan bukanlah aku dari golongan orang-orang yang menyekutukan Allah.
Sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku kuserahkan hanya pada Allah tuhan seru sekelian alam.
Sekali-kali tidaklah aku menyekutukanNya . Dan dengan demikian aku ditugaskan, dan aku adalah dari golongan orang-orang Muslim (Islam).
Itulah totalitas keikhlasan., Kita bisa sholat , kita bisa ibadah , kita bisa memberi , segala dari Alloh. Bisa menerima anugerah dari Alloh dengan bersukur, anugerah sedikitpun diterima dengan ikhlas dan bersyukur, jika ditimpa musibah kitapun menerima dengan ikhlas. Sebab hidupnya karena Alloh. Rezeki juga dari Alloh, musibah juga dari Alloh, dapat memberi sebab kita menerima pemberian dari Alloh. Bisa member dengan ikhlas , bisa berbagi dengan ikhlas dan bisa menerima dengan ikhlas. Itulah kebahagiaan.
Janganlah kita mengingat apa yang sudah kita berikan. Janganlah mengudat-undat apa yang sudah kita ikhlaskan. Apa yang kita berikan, jadikan pemberian seperti kita tiap pagi nongkrong di kali , di WC, “plung lap”. Lega dan kita tak memikirkan lagi. Inilah yang disebut pemberian tanpa pamrih.

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Mari bershalawat

Shalawat bentuk jamak dari kata salkat-Nya bersholawat untuk Nabi”( Al Ahzab ayat 56).
2. Perintah Allah SWT, Hai, orang-orang yang beriman bersholawatlah pada Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (Al Ahzab ayat 56).
3. Karena kita membutuhakan syafaat dari beliau di hari kuamat kelak. Nabi Muhammad SAW akan memberikan syafa’at kepada umatnya. di hari kiamat, bagi umat yang mencintai belaiau dan yang mengerjakan sunah-sunah beliau.
4. Kita sebenarnya yang membutuhkan shalawat. Karena apa ? Karena Nabi Muhammad sendiri sudah dijamin Allah, manusia yang tidak punya dosa (maksum), dan pasti di tempatkan Allah di tempat yang paling Mulia, walaupun manusia di muka bumi ini bershalawat atau tidak, tidak akan mempengaruhi kedudukan beliau di tempat yang paling mulia.
Jadi keseimpulannya kita lah yang membutuhkan shalawat itu. Mengapa kita membutuhkan ? Karena kita manusia biasa yang tidak dapat dihandalkan di hadapan Allah SWT. Coba apa yang dapat kita handalkan di hadapan Allah. Sholat kita kah? Atau puasa kita ? sedekah kita? Amal-amal kita yang lain, dapatkah dihandalkan di hadapan Allah SWT ?
Nabi Muhammad lah yang tahu keadaan umatnya. Nabi Muhammad SAW, dan senantiasa berdoa untuk keselamatan umatnya. Sungguh Belaiulah manusia yang paling Mulia Akhlaknya.
Sehingga dengan shalawat yang kita bacakan, akan selalu menjadi tali antar kita sebagai umat beliau dengan Nabi SAW.
Imam At-Tirmidzi rahimahullah, meriwayatkan dari Abu Qurrah Al-Asadi, dari Sa’id bin Musayyab, dari Umar bin Khatthab r.a, berkata :

“Sesungguhnya do’a itu dihentikan di antara langit dan bumi, tidak akan naik sedikitpun darinya, sehingga kamu bersholawat atas nabimu SAW,”. (periksa : At-Targhib wa At-Tarhib, Juz 2, hlm : 329, dan Tuhfah Ad-Dzakirin, hlm : 43, dan Al-Adzkar, hlm : 129).
Begitulah doa-doa yang kita panjatkan, yang tidak disertai shalawat seperti debudebu yang berterbangan di angkasa.

Dipublikasi di Uncategorized | 1 Komentar

Sompil

 

Di Mushola Aulia Pingin Ds Guworejo, Kecamatan Karangmalang Kab. Sragen, lagi pertama aku jadi imam sholat terawih dan ngasih kultum . Mau dikasih apa ya kultumnya ? akhirnya kuputuskan untuk Ngasih kultum materi yang ada di artikel Kenangan Masa Kecil II, yang di situ terdapat materi tentang “megengan”. Hanya saja saya masih merasa kekurangan materi pasangan dari kue apam yang dijadikan makanan penyaji dalam acara megengan yaitu “sompil”.

Tetapi sompil ini lain yang ada di Tulungagung atau tempat lain, sompil yang ada di Tulungagung terbuat dari bahan beras, cara membuatnya hamper sama dengan ketupat tetapi pembungkusnya dari daun pisang dan dibuat berbentuk kerucut.

“Sompil” yang saya maksud adalah bahannya sama dengan bahan untuk membuat kue apam tetapi cara masaknya yang berbeda, yang ini cara masaknya adonan kue apam dibungkus dengan daun pisang bentuknya kerucut dan biasanya diberi warna merah. Kemudian dikukus.

Tapi bingung aku mencarai makna filosofi dari sompil. Apa sih maknanya? Lewat browsing juga tak kutemukan arti filosofi dari sompil. Ya terpaksa aku gunakan jurus pamungkas yaitu ‘ilmu Othak athik gathuk’. Dan juga semangat dari ustadz.  Ustadz saya sering bercanda mula-mula beliau berkata seriuas memberikan penjelasan seolah-olah beliau punya ilmunya. Tapi ……………akhirnya diakhir penjelasan beliua berkata “Apusi wae …… (bohongi aja ) …..he he he ……………..” Kalau nggak gitu beliau berkata, “awur wae …. ……………..” yang penting confident, PD wae …………

Sompil meniko saking tembung Isone ngampil, …… manungso meniko lahir mboten mbeto punopo-punopo, sedo nggih mboten mbeto punopo. Sedaya engkang kita gadhahi meniko naming ampilane saking Gusti Alloh. Termasuk Nyowo kito meniko naming ampilane saking Pangeran. Dados manungso meniko mboten kagungan punopo-punopo.

Dados sompil puniko ngengetaken bilih kita meniko mboten gadah punopo-punopo, engkang kita gadhahi puniko naming ampilan kemawon. Dados kito manungso mboten sah kagungan raos sombong, raos adigang adigung adiguno, engkang tembene mboten saged dadosaken kita mlebet dumateng swargo, amargi, Sabda Rasulullah SAW yang artinya: “Tidak akan masuk syurga seseorang yang ada di dalam hatinya sifat sombong sekalipun hanya seberat debu ………………………………. Hadis riwayat Muslim

He he he yang penting confident

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

KENANGAN MASA KECIL II

 

(Aku tulis untuk anakku tercinta yang tidak pernah mengenal masa seperti ini)

Marhaban ya Ramadhan………. 30 tahun yang lalu. Dua hari menjelang Ramadhan tiba, di sebagian besar pulau Jawa, para ibu sibuk di dapur sejak dini hari, dari wajan yang kecil, kue apem satu persatu digoreng dan diangkat, bau harum yang khas, menggugah tidurku, menggugah seleraku, membuat ingin segera mencicipi. Tapi sungkan sama ibu, bangun tidur kok terus menyerbu makanan, ora elok. Nanti kan pasti kebagian. Itulah secuil kisah dari tradisi megengan. Tradisi Megengan di tempat kami dulu adalah saling antar-mengantar kue apem dan kue-kue yang lain sebagai pelengkapnya. Kita mengantar kue apem ke tetangga-tetangga, dan tetangga-tetangga mengantar kue apem ke kita, Jadi kita sling tukar-menukar kue apem. Jadi jika kita tidak memakan apem buatan ibu pasti kita juga dapat kue apem dari tetangga. Namun lebih enak jika makan kue apem yang masih hanggat. Biasanya, pelengkap kue apem yang lainnya adalah pisang, irisan tebu, sompil (bahannya sama dengan kue apem tetapi cara masaknya dikukus dengan daun) itu pelengkap yang selalu ada, dan seperti kue yang lain itu hanya tambahan, seperti kokes, cara bikang dan sebagainya. Megengan secara etimologi berasal dari kata bahasa Jawa “megeng” yang berarti menahan. Kata Megeng sangat berkaitan dengan kata nafas, menjadi megeng nafas, artinya menahan nafas. Sedangkan nafas satu akar kata dengan kata bahasa Arab “Nafs” yang artinya jiwa, atau nafsu. Jadi kata “Megeng” itu sendiri akhirnya dapat juga diartikan menahan nafsu, atau “Ngeker hawa nafsu”. Ngeker itu sendiri mempunyai makna lebih dari sekedar menahan. Jadi Ngeker hawa nafsu adalah usaha yang kuat untuk menahan hawa nafsu. Dari makna kata tadi tradisi megengan berarti ajak-ajak kepada manusia (tetangga kanan kiri) menyiapkan diri untuk menahan hawa nafsu yang dilakukan pada bulan Ramadhon. Ajak –ajak untuk berpuasa. Ajak-ajak untuk kebaikan adalah termasuk ajaran Islam yaitu ibadah amar ma’ruf. Nah mengapa ajak-ajak kok tidak terus terang saja. Tidak mau “blak-blakan” . Karena “orang Jawa”, masih mengenal istilah “Ewuh Pekewuh” (rendah hati, tidak mau menonjolkan diri) takut jika dikatakan “keminter” (menonjolkan diri untuk dianggap pandai), tidak mau dikatakan sok alim, sehingga perlu media untuk mengatakan maksud dan tujuannya tanpa dianggap menggurui, tanpa dianggap “minteri.” Banyak istilah-istilah tradisi di Jawa tersamarkan misalkan istilah “Sekaten” konon dari istilah syahadatain (persaksian). Juga dalam istilah dunia pewayangan mengenal istilah Jimat “Kalimasada”, jimatnya Pembarep Pandawa’ Yudistira ‘ asalnya dari kalimat “Kalima Syahadat”. Begitulah orang Jawa yang tidak mau menonjolkan diri. Begitu juga dalam elemenelemen Megengan, seperti kue “Apem”. Kata apem diambil dari kata bahasa Arab “Afu’an” yang berarti memohon ampun. Dalam puasa diharapkan memperbanyak istghfar kepada Allah SWT. Juga kita saling bertukar kue apem, mempunyai maksud jika kita mengantar kue apem ke tetangga berarti kita memohon maaf kepada tetangga. Dan jika kita menerima kue apem dari tetangga, kita harus mau memaafkan kesalahan dari tetangga kita. Sungguh suatu sifat yang sangat mulia jika kita bisa saling member maaf pada tetangga. Tradisi meminta maaf sebelum puasa ini keliahatannya kembali digalakan, walaupun tanpa kue apem, tapi dengan SMS. Tradisi memberi dan meminta maaf ini ternyata sudah dilakukan oleh orang Jawa, jadi tidak hanya pada halal bi halal saja. Kue Apem ada yang mengartikan symbol dari payung, melindungi dari panas dan hujan. Maksudnya memohon perlindungan kepada Allah agar memberi kekuatan (memayungi) kepada kita untuk kuat menahan segala deraan nafsu. Memayungi kita dari mala petaka. Kue apem adalah lambing sedekah, karena Nabi Muhammad SAW bersabda, Sedekah itu menutup tujuh puluh pintu kejahatan (Al-Hadis) Sedangkan pisang adalah symbol dari tangkai payung, Sebagai pegangan agar payung tidak hilang, tertiup ganasnya angin, maksudnya agar orang Jawa selalu punya pegangan kepada yang Memayungi kita yaitu Allah SWT, dan selalu berlindung kepada-Nya. Tebu rasanya manis, mempunyai maksud agar dalam bulan puasa nanti kita mempunyai sikap manis terhadap orang lain. Punya “ulat manis” (wajah cerah, ) sehingga tidak membuat orang marah, sebab orang yang marah bisa membatalkan puasa. Begitulah orang Jawa dalam menyiapkan dan menyambut datang bulan Ramadhan dengan tradisi megengan. Dan tradisi megengan ini makin lama makin surut saja, dan akhirnya akan menjadi musnah. Megengan hanya tinggal cerita. Mungkin jamannya sudah berubah, budaya “ewuh pekewuh” sudah hilang, berganti dengan jaman vulgar, dimana orang lebih suka berterus terang, sehingga tidak perlu lagi pakai media untuk menyampaikan maksud dan tujuan. Kalau hewan dan tumbuhan yang hampir punah aka nada cagar alam, suaka margasatwa, kalau bangunan bersejarah ada cagar budaya, mungkin nggak kita membuat cagar tradisi megengan yang “mengku pitutur luhur” bagi kita semua. Dan akhirnya semoga kita selalu merasa bahagia dalam menyambut bulan Ramadhan, dan di beri kekuatan untuk mengisinya dengan baik, walau tanpa ada megengan

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

KENANGAN MASA KECIL I

Ada yang masih kuingat kala, kala semua saudara-saudaraku belum menjadi orang tua, kala semua masih anak-anak, di saat menjelang Romadhon tiba, anak-anak laki-laki pergi ke pasar untuk mencari mercon(Petasan). Sehingga menjelang Romadhon sampai Hari Raya, meriah dengan suara mercon, Dar … der … dor. Dan tak kalahserunya , ada yang membuat mercon bumbung, yang dibuat dari pangkal bambu yang dilubangi menembus ruas demi ruas, dan dekat panggkal bambu di beri lubang kecil tempat menyulut. Seperti meriam layaknya. Sering kami membunyikan di pinggir bengawan Solo, sehingga suara mengelegar menggema sampai kemana-mana, Jeggluuuur ……..gluuur …..glur…… Kemudian sorenya menjelang waktu berbuka puasa kami semua di luar rumah menanti suara blanggur (petasan yang besar) yang di sulut di alun-alun Ngawi, sebagai tanda waktu berbuka. Begitu mendengar suara blanggur kami berlarian ke rumah, segingga jalan-jalan menjadi sepi.
Kadang dulu bapak juga membelikan mercon untuk kami. Tidak tahu apa motivasi bapak membelikan mercon untuk kami. Mungkin orang tua juga senang sama mercon, Atau mungkin bahkan jika tidak malu sama anak-anaknya Bapak juga ikut menyulutnya. (smoga Allah mengapuni dosa-dosa nya dan ditempatkan di tempat yang layak , amiin).
Begitu cara kita menyambut bulan Romadhon. Dar… der… dor ….jeggluuuuur……. Marhaban ya Romadhon. Namun ……………….sekarang itu tinggal cerita. Tinggal kenangan, secara berangsur-angsur mercon kemudian dilarang oleh Polisi, karena banyak memakan korban, rumah terbakar, jari ada yang hilang, muka kena sumbat petasan sampai biru, mungkin juga kena mata, dan para ibu berkata, “Uang kok dibakar”. ….. Mubadzir.
Mungkin jika sekarang masih banyak orang yang main mercon, langsung MUI pasti akan mengeluarkan fatwa haram untu mercon. Karena ya itu ……. Mubadzir dan banyak memakan korban. Namun dari dulu kayaknya belum pernah ada fatwa MUI tentang mercon. Mungkin para Ulama itu juga suka mercon. (maaf gih pak Kyai, dan para Alim Ulama, kami hanya bercanda).
Hmmmm …. membahagiakan …………………. tak peduli , mubadzir, atau membahayakan, yang penting bisa menyambut datangnya bulan Romadhon dengan hati yang bahagia, walau hanya tinggal kenangan semoga Allah menjauhkan kami dari neraka seperti dalam hadis Nabi : Barang siapa yang bahagia akan datangnya bulan suci Ramadhan, alloh mengharamkan jasadnya untuk masuk neraka (Al- Hadist).

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar